
Blogger templates
Senin, 19 Desember 2011
CONTEKSTUAL TEACHING AND LEARNING




CONSRTUCTIVISM
Konstructivisme adalah pandangan belajar dimana peserta didik menggunakan pengalaman mereka sendiri untuk membangun pemahaman yang masuk akal bagi mereka,daripada harus disampaikan kepada pemahaman mereka dalam bentuk kegiatan sudah teroganisir.Belajar berdasarkan konstructivisme menempatkan peserta didik dalam kontek apa,mereka sudah tahu dan menerapkan pemahaman mereka pada situasi otentik. " (Kauchak & Eggen, 1998, h. 184).
Karakteristik pengajaran konstraktivisme
1.Pembelajar membangun pemahaman mereka sendiri
2.Baru belajar tergantung pada pemahaman
3.Belajar difasilitasi oleh interaksi sosial
4.Belajar bermakna dalam tugas-tugas otentik
Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial.
Konstrukstivisme Individu
Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu, kepercayaan, konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis individual. Dua proses diaplikasikan dalam hal ini yaitu asimilasi dan akomodasi. Melalui asimilasi kita berusaha memahami hal yang baru dengan mengaplikasikan schema yang ada; sedangkan akomodasi terjadi ketika seseorang harus merubah pola berpikirnya untuk merespon terhadap situasi yang baru. Seseorang melakukan adaptasi dalam situasi yang makin kompleks ini dengan menggunakan schema yang masih bisa dianggap layak (asimilasi) atau dengan melakukan perubahan dan menambahkan pada schema-nya sesuatu yang baru karena memang diperlukan (akomodasi).
Konstruktivisme sosial
Menurut teori ini pengetahuan dibentuk secara sosial, yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Interaksi sosial, alat-alat budaya, dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual.
Jonassen (1994) mengusulkan bahwa ada delapan karakteristik yang membedakan lingkungan belajar konstruktivisme:
1. Lingkungan belajar konstruktivis memberikan beberapa representasi dari realitas.
2. Beberapa menghindari penyederhanaan representasi dan mewakili kompleksitas dunia nyata.
3. Lingkungan belajar konstruktivis menekankan konstruksi pengetahuan dimasukkan reproduksi pengetahuan.
2. Beberapa menghindari penyederhanaan representasi dan mewakili kompleksitas dunia nyata.
3. Lingkungan belajar konstruktivis menekankan konstruksi pengetahuan dimasukkan reproduksi pengetahuan.
4. Lingkungan belajar konstruktivis menekankan tugas-tugas otentik dalam konteks bermakna daripada instruksi abstrak diluar konteks.
5. Lingkungan belajar konstruktivis menyediakan lingkungan pembelajaran seperti dunia nyata pengaturan atau kasus pembelajaran berbasis bukan urutan yang telah ditentukan instruksi.
6. Lingkungan belajar konstruktivis mendorong refleksi mendalam pada pengalaman.
7. Lingkungan belajar konstruktivis "mengaktifkan konteks dan konten-tergantung konstruksi pengetahuan."
8. Lingkungan belajar konstruktivis dukungan "konstruksi pengetahuan kolaboratif melalui negosiasi sosial, bukan kompetisi antar peserta didik untuk pengakuan.’
6. Lingkungan belajar konstruktivis mendorong refleksi mendalam pada pengalaman.
7. Lingkungan belajar konstruktivis "mengaktifkan konteks dan konten-tergantung konstruksi pengetahuan."
8. Lingkungan belajar konstruktivis dukungan "konstruksi pengetahuan kolaboratif melalui negosiasi sosial, bukan kompetisi antar peserta didik untuk pengakuan.’
Jumat, 16 Desember 2011
Tentang Matematika
Definisi Matematika
Kata "matematika" berasal dari bahasa Yunani Kuno μάθημα (máthēma), yang berarti pengkajian, pembelajaran, ilmu, yang ruang lingkupnya menyempit, dan arti teknisnya menjadi "pengkajian matematika", bahkan demikian juga pada zaman kuno.
Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalambahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaransebelumnya sehinggakaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat
konsisten.
konsisten.
Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Matematika :
Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui materi pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistika, kalkulus dan trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel.
Tujuan pembelajaran matematika adalah:
1. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan misalnya melalui kegiatan penyelidikian, eksplorasi eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi.
2. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi,dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen,orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
3.Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
4. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui materi pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistika, kalkulus dan trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel.
Tujuan pembelajaran matematika adalah:
1. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan misalnya melalui kegiatan penyelidikian, eksplorasi eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi.
2. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi,dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen,orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
3.Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
4. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Langganan:
Postingan (Atom)



