Konstructivisme adalah pandangan belajar dimana peserta didik menggunakan pengalaman mereka sendiri untuk membangun pemahaman yang masuk akal bagi mereka,daripada harus disampaikan kepada pemahaman mereka dalam bentuk kegiatan sudah teroganisir.Belajar berdasarkan konstructivisme menempatkan peserta didik dalam kontek apa,mereka sudah tahu dan menerapkan pemahaman mereka pada situasi otentik. " (Kauchak & Eggen, 1998, h. 184).
Karakteristik pengajaran konstraktivisme
1.Pembelajar membangun pemahaman mereka sendiri
2.Baru belajar tergantung pada pemahaman
3.Belajar difasilitasi oleh interaksi sosial
4.Belajar bermakna dalam tugas-tugas otentik
Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial.
Konstrukstivisme Individu
Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu, kepercayaan, konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis individual. Dua proses diaplikasikan dalam hal ini yaitu asimilasi dan akomodasi. Melalui asimilasi kita berusaha memahami hal yang baru dengan mengaplikasikan schema yang ada; sedangkan akomodasi terjadi ketika seseorang harus merubah pola berpikirnya untuk merespon terhadap situasi yang baru. Seseorang melakukan adaptasi dalam situasi yang makin kompleks ini dengan menggunakan schema yang masih bisa dianggap layak (asimilasi) atau dengan melakukan perubahan dan menambahkan pada schema-nya sesuatu yang baru karena memang diperlukan (akomodasi).
Konstruktivisme sosial
Menurut teori ini pengetahuan dibentuk secara sosial, yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Interaksi sosial, alat-alat budaya, dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual.
Jonassen (1994) mengusulkan bahwa ada delapan karakteristik yang membedakan lingkungan belajar konstruktivisme:
1. Lingkungan belajar konstruktivis memberikan beberapa representasi dari realitas.
2. Beberapa menghindari penyederhanaan representasi dan mewakili kompleksitas dunia nyata.
3. Lingkungan belajar konstruktivis menekankan konstruksi pengetahuan dimasukkan reproduksi pengetahuan.
2. Beberapa menghindari penyederhanaan representasi dan mewakili kompleksitas dunia nyata.
3. Lingkungan belajar konstruktivis menekankan konstruksi pengetahuan dimasukkan reproduksi pengetahuan.
4. Lingkungan belajar konstruktivis menekankan tugas-tugas otentik dalam konteks bermakna daripada instruksi abstrak diluar konteks.
5. Lingkungan belajar konstruktivis menyediakan lingkungan pembelajaran seperti dunia nyata pengaturan atau kasus pembelajaran berbasis bukan urutan yang telah ditentukan instruksi.
6. Lingkungan belajar konstruktivis mendorong refleksi mendalam pada pengalaman.
7. Lingkungan belajar konstruktivis "mengaktifkan konteks dan konten-tergantung konstruksi pengetahuan."
8. Lingkungan belajar konstruktivis dukungan "konstruksi pengetahuan kolaboratif melalui negosiasi sosial, bukan kompetisi antar peserta didik untuk pengakuan.’
6. Lingkungan belajar konstruktivis mendorong refleksi mendalam pada pengalaman.
7. Lingkungan belajar konstruktivis "mengaktifkan konteks dan konten-tergantung konstruksi pengetahuan."
8. Lingkungan belajar konstruktivis dukungan "konstruksi pengetahuan kolaboratif melalui negosiasi sosial, bukan kompetisi antar peserta didik untuk pengakuan.’




0 komentar:
Posting Komentar